Limbah Nuklir

Jepang Putuskan Buang Limbah Nuklir Ke Laut, Ini Dampaknya!

Pemerintah Jepang memutuskan untuk membuang air limbah dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima ke samudera Pasifik. Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida menyatakan bahwa pembuangan limbah nuklir mulai dilaksanakan pada tanggal 24 Agustus 2023. Keputusan yang kontroversial tersebut memicu reaksi dari berbagai pihak yang khawatir akan dampaknya terhadap lingkungan. Apa yang membuat Jepang akhirnya mengambil keputusan seperti itu?

Sejarah PLTN Fukushima Daiichi, dari Berdiri hingga Saat Ini

Reaktor Nuklir Fukushima
Foto udara PLTN Fukushima Daiichi (2007). Sumber: Wikipedia.

Jepang mulai mengembangkan energi nuklir sekitar tahun 1950-an dalam rangka menciptakan sumber energi alternatif. Sebagai negara yang memiliki cadangan energi fosil yang terbatas, Jepang sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan energi negaranya. Hal tersebut dinilai kurang menguntungkan baik dari sisi ekonomi maupun kedaulatan energi. Oleh karena itu, pemerintah Jepang mengembangkan energi nuklir untuk meningkatkan kemandirian dalam mengelola kebutuhan energi nasionalnya.

PLTN Fukushima Daiichi (Fukushima 1) berdiri pada tahun 1971 sebagai bagian dari rangkaian usaha Jepang dalam mengembangkan energi nuklir. PLTN tersebut beroperasi normal selama 40 tahun, dan menggerakkan generator listrik dengan daya gabungan sebesar 4,7 gigawatt. Pengoperasiannya berhenti pada tahun 2011 akibat kerusakan dari gempa bumi berkekuatan 9,1 SR dan tsunami pada tanggal 11 Maret 2011.

Kerusakan PLTN Akibat Bencana Tahun 2011

Gempa dan tsunami merusak sistem pendingin PLTN, yang mengakibatkan meledaknya 3 reaktor yang masih menghasilkan panas hingga sekarang. Hal tersebut menyebabkan reaktor harus terus menerus didinginkan menggunakan air dari luar PLTN. Air tersebut kemudian bersifat radioaktif setelah mengalami kontak dengan reaktor.

Proses pendinginan yang berlangsung secara kontinu membuat air pendingin menumpuk dan harus dibuang. Pihak pengelola PLTN, Tokyo Electric Power Company (TEPCO) telah menyiapkan 1000 tangki untuk menampung air limbah radioaktif. Namun sayangnya, tangki-tangki tersebut diproyeksikan akan penuh pada awal 2024. Kondisi inilah yang menyebabkan pemerintah Jepang terpaksa mengambil keputusan untuk mengosongkan tangki-tangki penampungan dengan membuang airnya ke laut.

Pemerintah Jepang dan TEPCO mengklaim bahwa air limbah tersebut sudah diproses sedemikian rupa dan telah memenuhi standar batas aman tingkat radioaktivitas yang ditetapkan oleh International Atomic Energy Agency (IAEA). Namun, banyak pihak yang sangsi akan klaim Jepang, dan beranggapan bahwa air limbah tersebut masih berpotensi mencemari lautan.

Reaksi Dunia Internasional terhadap Keputusan Jepang

Protes Polusi Limbah Nuklir
Sumber: freepik.com

Tanggapan keras datang dari berbagai pihak. Tidak hanya negara-negara luar, masyarakat Jepang pun banyak yang memberikan tanggapan negatif terhadap aksi pemerintahnya. Kekhawatiran akan dampak negatif limbah nuklir menjadi penyebabnya.

Tiongkok

Tiongkok merupakan negara tetangga yang paling gencar mengecam keputusan Jepang, sampai-sampai menyebut perbuatan Jepang sebagai “tindakan yang sangat egois dan tidak bertanggung jawab”. (sumber: bbc.com)

Langkah pertama yang Tiongkok lakukan setelah mendengar pernyataan resmi Jepang ialah memberhentikan semua impor makanan laut dari Jepang. Alasannya adalah untuk menjaga kesehatan konsumen dari negaranya. Padahal, selama ini Tiongkok merupakan importir nomor 1 komoditas tersebut. Larangan ini berlaku untuk impor makanan laut dari semua daerah di Jepang, tidak hanya dari Fukushima.

Reaksi Tiongkok ini menimbulkan potensi kerugian ekonomi yang sangat signifikan bagi Jepang. Selama ini, nilai impor Tiongkok terhadap makanan laut Jepang tiap tahunnya mencapai USD 1,1 miliar (±16,7 miliar rupiah). Angka tersebut bernilai hampir setengah dari dari total nilai ekspor makanan laut Jepang secara keseluruhan.

Korea Selatan

Ratusan masyarakat Korea Selatan melakukan aksi demonstrasi di Seoul, buntut dari keputusan kontroversial Jepang. Choi Kyoungsook, salah satu anggota kelompok aktivis Korea Radiation Watch mengatakan “zat radioaktif akan menghancurkan ekosistem laut”. Ia menilai tindakan Jepang tersebut tidak berempati. Choi Kyoungsook pun menegaskan bahwa laut bukan hanya untuk pemerintah Jepang, tapi untuk kita semua dan umat manusia. (sumber: thejakartapost.com)

Naiknya harga garam juga menjadi akibat dari kekhawatiran masyarakat Korea Selatan terhadap isu ini. Banyak warga yang menimbun garam karena khawatir garam yang diproduksi belakangan akan tercemar air limbah nuklir Fukushima. Stok garam yang menipis di pasaran membuat harganya menjadi melonjak sekitar 40%. Hal ini membuat pemerintah Korea Selatan terpaksa mengeluarkan stok garam laut dari cadangan resminya untuk menstabilkan harga garam.

Jepang

Meskipun pemerintah Jepang mengklaim bahwa air limbah nuklir sudah terproses dan telah mencapai batas aman, namun tanggapan negatif muncul dari masyarakatnya.

Sejumlah nelayan dan penduduk dari daerah timur laut Jepang menentang keputusan pemerintah Jepang untuk membuang air limbah nuklir ke laut. Berkaca pada tahun 2012 silam, saat itu hasil tangkapan laut di daerah Fukushima tidak laku di pasaran. Dengan adanya keputusan terbaru dari pemerintah Jepang, terdapat ketakutan akan terulangnya kejadian tersebut.

Dampak Limbah Nuklir Terhadap Lingkungan

Arus Air dari Fukushima
Arus Samudera Pasifik. Sumber: Korea Hydrographic and Oceanographic Agency, American Meteorological Society

Hal utama yang menjadi penyebab kekhawatiran akan pelepasan air limbah nuklir Fukushima ke laut adalah belum adanya teknologi yang dapat menghilangkan sepenuhnya unsur radioaktif hidrogen yang ada dalam air, salah satunya adalah tritium. Tritium merupakan isotop radioaktif hidrogen, yang biasa digunakan sebagai sumber energi dalam lampu radioluminescent untuk jam tangan, alat pembidik pada senjata, serta berbagai instrumen dan perkakas.

World Health Organization (WHO) telah menetapkan batas aman konsentrasi tritium dalam air adalah 10.000 becquerel per liter (Bq/L). IAEA mengklaim bahwa konsentrasi tritium dalam air limbah nuklir Fukushima sebesar 1.500 Bq/L, sementara itu TEPCO juga mengklaim bahwa sampel air laut menunjukkan konsentrasi tritium di bawah 1.500 Bq/L. Kandungan tersebut jauh lebih kecil di bawah batas aman WHO.

Meskipun banyak ilmuwan berpendapat bahwa kadar tritium yang rendah bersifat aman dan berdampak minimal, komunitas ilmuwan sendiri masih belum sepenuhnya satu suara mengenai dampak pelepasan air limbah nuklir Fukushima ke laut. Perlu banyak penelitian lebih lanjut tentang bagaimana dampaknya terhadap ekosistem laut dan manusia. Yang jelas, mengonsumsi air dan makanan laut yang memiliki kandungan radioaktif tinggi dapat menyebabkan kerusakan DNA serta meningkatkan risiko kanker bagi manusia.

Baca juga: Dampak Fenomena Bumi Mendidih, Bukan Lagi Pemanasan Global