Tanah-kering

Dampak Fenomena Bumi Mendidih, Bukan Lagi Pemanasan Global

Istilah pemanasan global tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Pemanasan global atau Global warming merupakan istilah yang merujuk pada keadaan bumi yang mengalami peningkatan suhu di atas rata-rata. Pemanasan global memiliki dampak nyata yang dapat kita rasakan sendiri, seperti meningkatnya suhu secara ekstrem di musim kemarau atau sering terjadinya kebakaran hutan.

Namun, baru-baru ini United Nation mengubah penyebutan pemanasan global (global warming) menjadi pendidihan global (global boiling). Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyatakan bahwa keadaan bumi semakin parah. Dia menilai istilah pendidihan global (global boiling) lebih menggambarkan keadaan bumi saat ini.

Bukan tanpa sebab Antonio menyebut istilah pendidihan global untuk menggambarkan keadaan bumi saat ini. Berbagai fenomena atau kejadian telah menunjukkan bahwa bumi sudah mengalami pemanasan yang meningkat secara berkali-kali lipat.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat bahwa suhu rata-rata global tertinggi terjadi pada bulan Juli 2023. Sebelumnya rekor suhu rata-rata global tertinggi terjadi pada Maret 2016 sebesar 20,95 derajat Celsius. Pada Juli 2023, suhu rata-rata global mengalami kenaikan sebesar 0,01 derajat Celsius, yakni sebesar 20,96 derajat Celsius dan menjadi rekor suhu rata-rata tertinggi di bumi. Walaupun hanya mengalami sedikit peningkatan, tetapi keadaan ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Peningkatan suhu bumi secara berkala dapat membahayakan lingkungan hingga makhluk hidup di bumi.

Tanah-kering
Keringnya tanah akibat dari pemanasan global

Berikut dampak dari fenomena meningkatnya suhu di bumi yang baru-baru ini terjadi.

Jamboree Dunia Terancam Batal Karena Cuaca Ekstrem

Salah satu dampak pemanasan global yaitu pelaksanaan Jamboree Pramuka Dunia di Korea Selatan yang sempat terancam batal. Cuaca ekstrem yang terjadi di tempat pelaksanaan kegiatan jambore menyebabkan kegiatan Jamboree dunia sempat terganggu. Akibat cuaca panas ekstrem, peserta Jamboree Pramuka harus rela terpanggang pada suhu 38 derajat Celsius di alam terbuka.

Antisipasi panitia yang kurang dalam menghadapi perubahan cuaca secara drastis menjadikan banyak peserta dilarikan ke rumah sakit. Beberapa kontingen peserta Jamboree mengundurkan diri dari rangkaian kegiatan jamboree karena keadaan ini. Kontingen dari Inggris dan Amerika merupakan salah satu kontingen yang menarik mundur peserta dari kegiatan Jamboree dunia.

Gelombang panas dan cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor utama mundurnya delegasi dari Inggris dan Amerika. Mereka tidak ingin mengambil risiko jatuhnya korban dalam kegiatan Jamboree, delegasi Inggris dan Amerika akhirnya memutuskan untuk mengirim peserta ke tempat yang lebih aman.

Delegasi Amerika menarik diri dari kegiatan Jamboree dan berencana kembali ke Camp Humphreys di pangkalan militer AS di Pyeongtaek, Korea Selatan. Sedangkan delegasi dari Inggris mulai memindahkan peserta ke hotel. Menurut masing-masing pihak, penarikan peserta kegiatan Jamboree menjadi salah satu upaya menghindari adanya korban.

Kebakaran Hutan Dampak Pemanasan Global

Kebakaran hutan akibat pemanasan global
Terjadinya kebakaran hutan yang disebabkan pemanasan global.

Dilansir dari The Jakarta Post, terjadi kebakaran hutan di Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan (27/7/2023). Suhu panas yang ekstrem menjadi penyebab terjadinya kebakaran hutan. Pemanasan Global menjadi masalah utama terjadinya kebakaran-kebakaran di lahan terbuka terlebih ketika musim kemarau.

Suhu ekstrem di bulan Juli 2023 memang mengalami peningkatan secara ekstrem. Bahkan suhu di bulan Juli melampaui rekor suhu tertinggi rata-rata global di tahun 2016 silam. Kebakaran hutan akan menimbulkan banyak kerugian bagi lingkungan hingga makhluk hidup. Akibatnya, satwa kehilangan habitat tempat tinggalnya dan terkadang satwa memilih turun ke pemukiman penduduk menjadikan masalah baru penduduk sekitar. Kebakaran hutan juga menyebabkan polusi udara yang mengganggu kesehatan terutama ISPA.

Kemeterian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada tahun 2022 sebesar 204.894 hektare (ha). Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah terjadinya kebakaran hutan dan lahan, Kalimantan Selatan mengalami kebakaran hutan yang membakar hampir  2.300 hektar, naik dari 429 hektar berdasarkan data tahun lalu. Karhuutla akan terus terjadi apabila bumi tidak mengalami perubahan.

Tidak heran jika PBB menyebutkan bumi sudah memasuki era pendidihan dan mengubah istilah ‘pemanasan global’ menjadi ‘pendidihan global. Keadaan bumi saat ini sudah berada pada ambang kehancuran. Isu mengenai lingkungan menjadi topik yang seharusnya digaungkan oleh seluruh dunia.

Piers Foster, Professor fisika iklim University of Leads English menyatakan bahwa PBB menggunakan istilah baru untuk menggaungkan isu perubahan iklim menjadi lebih sensasional. Aksi ini mempunyai tujuan agar isu perubahan iklim akan mengundang perhatian dari berbagai pihak, terlebih para pemimpin untuk segera mengambil aksi nyata dalam menangani kejadian ini.

Bumi Memerlukan Aksi Nyata Untuk Menangani Masalah Pemanasan Global

Aksi nyata mengubah lingkungan hidup menjadi lebih baik tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau organisasi-organisasi lingkungan hidup. Dibutuhkan kontribusi dari seluruh manusia terutama pemuda sebagai agent of change sangat dibutuhkan untuk membantu memulihkan keadaan di bumi menjadi lebih baik. Menjadi agent of change bisa dimulai dengan mencintai lingkungan, ikut dalam penyuaraan aksi zero plastic, hingga mengikuti kegiatan volunteer cinta lingkungan.

Author: Fatin Chasyla Aliyya | Editor: Wiartika Sisil Mukaromah

Baca Juga: Aksi Penganiayaan Remaja di Sukabumi, Hingga Lindas Tubuh Korban!